AdvetorialDaerahKab. Kampar

Meniti Usaha Konveksi Seragam di Riau

Bagikan :

Pekanbaru, Suaraaura.com – 26 Juli 2023 – Bisnis konveksi adalah usaha menggiurkan yang sebenarnya dapat dilakukan dari rumah. Bisnis yang menyediakan jasa produksi pakaian dalam jumlah massal ini memang masih minim ditemukan di provinsi Riau, padahal, peluang usahanya begitu besar dengan permintaan yang dapat dipastikan akan terus ada. Bagaimana tidak? Setiap tahunnya, pasti ada pengadaan seragam sekolah dan seragam kerja baru, namun faktanya selama ini mayoritas seragam sekolah dan pakaian dinas kerja di provinsi Riau selalu dikerjakan oleh usaha-usaha konveksi di pulau Jawa.
Berangkat dari kesadaran tentang adanya peluang memiliki konveksi sendiri, Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) badan pengurus daerah Riau menabuh genderang semangat kepada seluruh anggota perkumpulan penjahit, perancang dan UMKM fesyen lokal ini lewat pelatihan berjudul “How to Start a Convection Business?”. Pelatihan yang dilaksanakan di Pekanbaru pada Rabu (26/7) lalu mendatangkan pemateri langsung dari Jawa Barat sebagai salah satu daerah konveksi terpesat di Indonesia, yakni Deden Hermaddin, pendiri pusat konveksi PT Tectona Cipta Niaga yang telah memiliki omset miliaran juta rupiah perbulannya.

Pada kelas pelatihannya, Deden berbagi pengalaman dan tidak pelit untuk membuka rahasia suksesnya dalam memulai usaha konveksi dari nol. “Usaha konveksi memiliki tiga jenis, yakni Maklun, By Order, dan Mass Production, siapa saja bisa menjalankan jenis konveksi manapun asalkan siap secara diri dan materi,” paparnya. Ia juga meyakinkan para peserta pelatihan bahwa untuk memulai sebuah usaha konveksi rumahan, semua dapat diawali dengan bahkan hanya memiliki satu atau dua mesin jahit saja. “Bapak dan Ibu juga perlu mencari peluang konsumen, rajin mempromosikan produknya atau lakukan kerja sama dengan merek fesyen lokal yang sudah ada misalnya, sehingga mereka tidak perlu jauh-jauh menempah produknya ke daerah lain, tapi sudah bisa dari konveksi lokal di sini,” terangnya ke seluruh peserta pelatihan.

Salah satu peserta yang merupakan pengusaha rumah batik asal Pelalawan mengajukan pertanyaan yang cukup menarik pada sesi tanya-jawab. Ia menanyakan cara yang baik dalam mengelola Sumber Daya Manusia (SDM), pasalnya, tak seperti di Jawa, banyak penjahit di Riau yang cenderung memilih ingin membuka rumah jahit custom sendiri. Terkait pertanyaan ini, memang diperlukan adanya upaya bersama antara pemerintah, UMKM dan asosiasi untuk membangun ekosistem SDM jahit dan fesyen yang berkelanjutan.
Selain SDM, mesin jahit, bordir dan suplai material kain juga menjadi hal yang penting dalam membangun bisnis konveksi. Untuk mesin, pengusaha hanya perlu membeli sekali dan disarankan untuk memahami perawatan serta perbaikannya, sedangkan untuk material kain, pengusaha di Riau kini harusnya tidak perlu pusing lagi semenjak hadirnya PT Asia Pacific Rayon yang memproduksi serat viscose rayon berbahan alami di Pangkalan kerinci, kabupaten Pelalawan.

Reni, salah satu anggota API Riau dan pengusaha konveksi yang telah eksis di Pekanbaru, mengaku tetap antusias menyimak setiap penjelasan di pelatihan ini. “Saya ingin memperbesar usaha saya dan menyasar ke pasar konsumen yang lebih luas. Saat ini, saya mencoba untuk menargetkan agar kelompok-kelompok jamaah umroh untuk memesan seragam ke usaha saya,” jelasnya. Reni juga mengaku kelas yang diberikan memberikan pengetahuan baru bagi dirinya.

Sebagai sebuah asosiasi yang bergerak di sektor industri tekstil hulu ke hilir di tanah air, API Riau terus optimis dalam mengembangkan potensi tekstil di bumi lancang kuning. Setiap bulannya, asosiasi tersebut konsisten membuka kelas berbagi pengetahuan dengan beragam topik berbeda sebagai upaya memajukan industri tekstil dan fesyen lokal hingga mampu berkembang ke taraf nasional dan internasional. Hingga saat ini, API Riau masih terus membuka peluang bagi pelaku usaha fesyen untuk bergabung ke organisasi non-profit tersebut yang aktif menyiarkan informasi pada akun instagramnya, @apiriau.



































































You may also like

Comments are closed.

More in Advetorial