DaerahKab. Kampar

Pj. Bupati Kamsol Bersama Forkopimda Kampar Gelar Sholat Ied Fitri 1444 hijriah

Bagikan :

Bangkinang,-Penjabat (Pj) Bupati Kampar DR. H. Kamsol, MM menunaikan Sholat Iedul Fitri bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Kampar di Mesjid Al Ikhsan Markaz Islamic Center Bangkinang. Hadir dalam sholat Iedul Fitri tersebut diantaranya Pj. Sekretaris Daerah Kabupaten Kampar Ir. Azwan, M,Si, seluruh Kepala Organisasi perangkat Daerah (OPD) dilingkungan Pemerintah Daerah, Dr. H. Abuya Erman Ghani Ma Dosen UIN Riau dan jemaah Sholat Iedul Fitri tahun 1444 H.

Dalam arahannya sebelum melaksanakan Sholat Iedul Fitri, Pj. Bupati Kampar mengatakan, Hari raya Idul Fitri yang disambut oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia dengan kumandang takbir, tahlil, dan tahmid yang menyeruak di setiap sudut kehidupan, di masjid, di surau, di lapangan dan di seluruh atmosfir kehidupan, menggema memenuhi seluruh angkasa raya sesungguhnya adalah wujud kemenangan dan ekspresi rasa syukur kaum muslimin kepada Allah atas keberhasilannya menaklukkan hawa nafsu dan mengembalikan fithrah (kesucian jiwa) melalui serangkaian aktifitas ibadah, amal shaleh dan mujahadah selama satu bulan penuh di bulan suci Ramadan yang baru saja kita lewati.

Ia menambahkan dalam suasana hari raya kemenangan ini, mari kita khayati kembali makna dan pesan penting kefithrahan manusia, baik sebagai ibadullah (hamba Allah) mupun sebagai khalifatullah fil ardli (khalifah di bumi).



Kamsol juga menjelaskan arti Iedul Fitri, Pertama kembali kepada kesucian rohani, atau kembali ke asal kejadian, atau kembali ke sikap keberagamaan yang benar. Makna ini mengisyaratkan bahwa setiap muslim yang merayakan Idul fitri sebenarnya dia sedang merayakan kesucian rohaninya dan menikmati sikap keberagamaan yang benar.

Dalam kesempatan itu juga Pj. Bupati Kampar juga mengajak seluruh jemaah Sholat Iedul Fitri untuk memperhatikan, betapa Allah SWT membandingkan orang yang mensucikan dirinya dengan orang yang mengotorinya laksana orang yang melihat dengan orang yang buta, laksana terang berbanding gelap, laksana teduh berlawan panas. Sungguh sebuah metafora yang patut kita renungkan.

Kamsol juga menjelaskan selaku Pemerintah, harus mampu melihat persoalan masyarakatnya secara empatik, kemudian berupaya mengurainya untuk terciptanya tatanan kehidupan yang adil dan berkesejahteraan. Pemerintah juga harus mampu menjadi lentera di kala gelap, menjadi payung di kala panas, menjadi garam bagi kehidupan dengan berupaya menghadirkan kemaslahatan dan prestasi yang maksimal untuk peradaban manusia yang lebih baik. Sehingga kita menjadi pemilik agama yang benar, hanifiyyah wa al-samhah yang santun, toleran, dan penuh kasih sayang kepada sesama.

Dalam arahannya Kamsol menyampaikan segala aktifitas ibadah yang kita laksanakan hendaknya tidak terjebak pada rutinitas ritual yang kering makna. Sebaliknya, amaliyah ibadah yang kita laksanakan seharusnya mampu mengaktualisasikan maqashid (tujuan asasi) dan hikmah tasyri di balik setiap pelaksanaan ibadah. Yaitu, untuk menata dan memuliakan harkat dan martabat kemanusiaan.

Lebih jauh Kamsol merinci Ramadhan adalah kampus kehidupan manusia. Sukses Ramadhan sesungguhnya tidak diukur pada saat sedang berlangsung, akan tetapi justru dilihat dari sebelas bulan yang akan dijalaninya ke depan, Adakah kita mampu melakukan perubahan dan perbaikan dirinya menjadi pribadi muttaqi, Adakah kita tetap konsisten menjaga amaliah kebajikan selama Ramadan untuk tegaknya kemaslahatan dan keluhuran diri serta lingkungannya, Ketiga: mari kita jadikan Idul fitri adalah momentum emas untuk memperkuat solidaritas kemanusiaan kita dengan saling peduli, berbagi dan menghargai, saling merajut silaturrahmi, menyapa dan memaafkan serta mengaktualisasikan nilai-nilai fitrah dalam perbuatan nyata dan prilaku mulia.

Dilanjutkannya momentum Idulfitri juga benar-benar mampu mengantarkan tatanan kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia yang berlandaskan nilai-nilai agama, akhlak mulia, kebersamaan dan kasih sayang dan terus saling peduli demi terciptanya tatanan masyarakat yang berharkat dan bermartabat, sejahtera dan berkeadaban di bawah naungan rida, maghfirah, dan kasih sayang Allah SWT. Amin, Ya Mujiibassaa’iliin sehingga Kabupaten Kampar menjadi Kabupaten “baldatun toyyibatun warobbun ghofur”.(Advetorial)





































































You may also like

Comments are closed.

More in Daerah