TANAH DATAR, SuaraAura.com – Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Budaya Adat Istiadat Kampar (LPP BAIK) sukses menyelenggarakan kegiatan “Rihlah Telusur Budaya” ke Bukik Marapalam Puncak Pato, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Perjalanan yang memakan waktu tempuh empat jam dari Kabupaten Kampar ini diikuti oleh 30 peserta yang merepresentasikan lintas profesi dan lintas generasi, mulai dari Ninik Mamak, Alim Ulama, Codiok Pandai, praktisi kesehatan (dokter), praktisi pendidikan, guru mahasiswa, peserta didik LPP Baik hingga tokoh adat perempuan (Siompu).
Kegiatan ini bertujuan untuk menggali akar sejarah dan filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) langsung dari titik nol kelahirannya.
Perjalanan Ekstrem Menuju Puncak Nilai
Ekspedisi ini bukan sekadar wisata biasa. Menggunakan bus merah ikonik, rombongan harus bertaruh nyali melintasi tanjakan terjal dan tikungan tajam Bukit Marapalam yang mengapit Gunung Sago dan Gunung Marapi. Ketegangan sempat menyelimuti kabin bus, terutama saat kendaraan merayap di bibir jurang Puncak Pato.
Namun, ketegangan itu terbayar lunas saat rombongan tiba di lokasi sakral tempat terjadinya kesepakatan besar antara kaum adat dan kaum agama pada tahun delapan belasan Masehi.
Pituah dari Puncak Pato
Sawir Dt. Tandiko sekretaris Lembaga Adat Kampar) LAK pada masanya, selaku tetua rombongan yang tampak tenang sepanjang perjalanan, memberikan wejangan mendalam saat berada di lokasi perundingan.
“Kehadiran kita di Bukit Marapalam adalah untuk melihat bagaimana keselarasan alam mampu menyatukan hati. Di Puncak Pato, yang merupakan situs bersejarah pertemuan kaum adat dan agama, keberadaan tiga batu tempat berunding mengajarkan bahwa kepemimpinan tidak bisa berdiri tunggal. Filosofi Tungku Tigo Sajarangan harus terus menjaga api musyawarah tetap menyala. Inilah esensi perjalanan yang wajib kita bawa pulang ke Kampar,” tegas Dt. Tandiko.
Senada dengan itu, Tuan Guru Erman menekankan aspek spiritualitas dalam berbudaya.
“Puncak Pato adalah saksi bisu di mana syariat dan adat bertemu dalam satu napas. Masuk ke sini dengan hormat adalah bentuk menjaga marwah leluhur. Kita ingin anak keponakan paham bahwa adat kita tidak bertentangan dengan agama, melainkan saling menguatkan bak Tali Tigo Sapilin,” ungkapnya.
Filosofi Marapalam: Saat Alam Merapat, Hati Bermufakat
Secara mendalam, Marapalam atau “Marapat Alam” mengandung makna filosofis tentang harmoni yang sempurna. Ia bukan sekadar pertemuan fisik antara dua gunung besar, Sago dan Marapi, melainkan simbol tentang bagaimana semesta memberikan ruang bagi manusia untuk saling mendekat. Di titik ini, alam seolah memberi isyarat bahwa kekuatan besar hanya bisa lahir dari keadaan yang “merapat” – seperti rapatnya barisan, rapatnya hati, dan rapatnya pemikiran.
Marapalam mengajarkan bahwa persatuan adalah hukum alam; ketika unsur-unsur dunia saling merapat, maka lahirlah tatanan kehidupan yang kokoh dan seimbang.
Pato: Patomuan Ruh Peradaban
Sementara itu, Pato atau “Patomuan” (Pertemuan) adalah manifestasi dari filosofi alam tersebut ke dalam tindakan manusia. Jika Marapalam adalah penyatuan alam, maka Pato adalah penyatuan ideologi. Di sinilah “titik temu” itu menjadi sakral – tempat di mana ego dikesampingkan demi lahirnya kesepakatan agung Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Pato mengingatkan kita bahwa setiap konflik memiliki muara, dan setiap perbedaan pendapat memiliki tempat untuk berunding. Ia adalah monumen musyawarah yang menegaskan bahwa setinggi apa pun sebuah puncak, ia tetaplah tanah tempat kaki berpijak dan tempat duduk bersama untuk mencari solusi bagi kemaslahatan umat.
Dukungan Lintas Sektoral
Keberhasilan rihlah ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. Ucapan terima kasih secara khusus disampaikan kepada:
Ihfazi Arham, M.Ag (Kepala Desa Salo) sebagai sponsor
Ustaz Amal Fathullah, Lc., MA. (Sekretaris Komisi 1 DPRD Provinsi Riau) atas dukungan penuhnya terhadap pelestarian budaya Kampar.
Kehadiran tenaga profesional seperti dr. Nofrida, serta para pegiat seni seperti Kabid Siompu (owner Eni Salon) dan Bu Neneng (Sanggar Silindung Bulan Kuok), menunjukkan bahwa kepedulian terhadap adat melintasi segala profesi.
Oleh-oleh Rihlah Budaya
Perjalanan berakhir dengan diskusi hangat bersama warga lokal di Nagari Batu Bulek, Lintau Buo Utara. Dari diskusi tersebut, peserta menyimpulkan bahwa Puncak Pato bukan sekadar titik geografis, melainkan “Puncak Nilai”.
Oleh-oleh utama dari perjalanan ini bukanlah benda, melainkan kesadaran kita bersama: bahwa menjaga budaya berarti menjaga keseimbangan antara adat, agama, dan ilmu pengetahuan.
LPP BAIK Kampar berkomitmen untuk terus menghidupkan ruh musyawarah ini demi masa depan generasi yang lebih berakar pada identitasnya.
Profil Singkat LPP BAIK Kampar: Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Budaya Adat Istiadat Kampar (LPP BAIK) adalah lembaga non-profit yang fokus pada edukasi, pelestarian, dan pengembangan serta pemajuan nilai-nilai luhur adat istiadat Kampar. Melalui berbagai program pelatihan dan kajian lapangan, LPP BAIK berupaya mencetak generasi yang memahami silsilah, tata krama, dan filosofi budaya dan adat istiadat yang indak lokang ndek paneh, indak pulo lapuok ndek hujan”
Visi LPP BAIK Kampar
Syamsul Azwar, Pimpinan Umum LPP BAIK sekaligus Ketua Panitia, menjelaskan bahwa lembaga ini hadir sebagai benteng pertahanan budaya di tengah gempuran zaman.
“LPP BAIK bukan hanya wadah berkumpul, tapi tempat belajar. Telusur budaya ini adalah ‘laboratorium hidup’ bagi kami. Kami ingin memastikan identitas Kampar tetap terjaga. Jika tungku padam, adat retak; jika tali putus, kampung goyah. Tugas kami adalah menjaga api musyawarah itu tetap menyala bersama Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Budaya Adat Istiadat Kampar (LPP BAIK),” tegas Syams.
Kontak Media: Tim Publikasi LPP BAIK Kampar (081277650481)
#LPPBAIK #TelusurBudaya #PuncakPato #KamparBeradat #BukitMarapalam #AdatBasandiSyarak













































