KAMPAR, SuaraAura.com — Suasana hangat penuh keakraban menyelimuti pertemuan alumni Pondok Pesantren Darussalam Kabupaten Kampar pada Senin malam (4/5/2026). Meski hujan rintik-rintik turun, tidak menyurutkan semangat para alumni untuk berkumpul dalam kegiatan muzakarah yang digelar di rumah dinas Ketua DPRD Kabupaten Kampar.
Canda dan tawa pecah di tengah pertemuan tersebut. Bukan karena hiburan semata, melainkan karena nostalgia masa-masa menuntut ilmu di pondok pesantren yang berpegang pada pemahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan bermazhab kan Imam Syafi’i. Para alumni yang hadir didominasi oleh mereka yang berdomisili di Kecamatan XIII Koto Kampar dan Koto Kampar Hulu.
Selaku tuan rumah, Ketua DPRD Kabupaten Kampar, Ahmad Taridi, menyambut hangat kehadiran para alumni. Ia mengungkapkan rasa bahagianya atas terselenggaranya kegiatan tersebut dan berharap pertemuan serupa dapat dilakukan secara rutin.
“Kegiatan ini sangat positif, tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga memperkuat eksistensi Pondok Pesantren Darussalam dalam mencetak generasi umat yang berkualitas,” ujarnya kepada media.
Menurutnya, muzakarah yang menghadirkan para ustadz dari pesantren menjadi sarana penting bagi alumni untuk kembali mengingat jati diri sebagai santri. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperdalam ilmu agama serta memperkuat hubungan batin dengan para guru, ustadz, dan ustadzah di pondok.
Pada kesempatan tersebut, kajian disampaikan oleh Tengku Syaifullah yang mengupas kitab Maraqil ‘Ubudiyah, karya Syekh Nawawi al-Bantani. Kitab tersebut merupakan penjelasan (syarah) dari kitab Bidayatul Hidayah yang ditulis oleh Imam Al-Ghazali.
Dalam pemaparannya, Ustadz Syaifullah menyoroti berbagai penyakit hati yang dapat menghalangi amal seorang hamba sampai kepada Allah SWT. Di antaranya adalah ghibah, sombong, takabur, ujub, hasad, kurangnya kasih sayang, serta riya.
Ia menegaskan bahwa penyakit-penyakit tersebut harus segera diobati melalui proses pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs) yang benar. “Proses ini tidak bisa dilakukan sembarangan, tetapi harus dibimbing oleh guru yang memahami metode penyucian diri secara tepat,” pesannya kepada para alumni.
Melalui kegiatan ini, para alumni tidak hanya melepas rindu terhadap sesama, tetapi juga memperbaharui semangat dalam meniti jalan sebagai hamba Allah yang senantiasa mengharapkan keridhaan-Nya.(***)













































